
masyarakat awam pada umumnya melihat anak2 punk hanya sebagai sampah masyarakat, generasi yang termarjinalkan etc etc. hal ini akibat dari citra yang di bangun oleh media dan ulah dari para posser ( anak2 yang sok berdandan ala
PUNK ) berperilaku premis, dan hippies. melakukan aksi2 yang sebenernya menghancurkan citra dari prinsip anak2 punk itu sendiri yaitu
kebebasan dan DIY ( do it yourself ). kenyataan yang kita terima bahwa banyak yang terjebak dengan stigma negatif karena mereka hanya mengikuti punk untuk kebutuhan budaya pamer semata. tampat pelarian sehingga bersembunyi di balik tirai kebebasan dan menuhankan kebebasan yang sebebas bebasnya yang akhirnya merugikan orang laen dan masyarakat pada umumnya. sehingga menjuerumuskan anak2 punk ini ( posser ) ke proses pengkerdilan makna dari kebebasan itu sendiri. so coba terjemahkan antara kebebasan dan penghargaan terhadap kebebasan itu?kenapa mereka harus memilih punk sebagai prinsip hidup mereka yang berlandaskan DIY ( do it yourself ). mereka besar di masyarakat yang mengkulturkan penyeragaman selera. masyarakat yang terlalu munafik untuk hal2 yang dianggap ” tabu “. meraka memberontak dengan setiap kekuatan yang mereka miliki yaitu memilih etika PUNK sebagai jalan hidup mereka. penampilan mereka dan cara hidup mereka sebagai counter cultur terhadap penyeragaman selera. sebagai menusia biasa dan makhluk sosial yang punya perasaan, mereka memilih punk bukan untuk pelarian semata tapi self difennce mereka terhadap serangan2 pengekangan ekspresi diri ( offence of cultur mainstream ) , penyeragaman selera, dan cultur budaya ” mapan “yang di ciptakan oleh majoritas masy.hari2 mereka pun tidak selalu berpenampilan punk saja.hari biasa mereka berpenampilan layaknya orang normal laennya.mereka mempunyai jadwal yang rutin seminggu sekali, untuk melepas kepenatan dan bercanda tawa di pinggiran trotoar tiap malam minggu mulai jam 10 mlm. disaat anak2 muda yang lain lebih memilih diskotik ato tempat hiburan laennya. mereka memilih jalanan sebagai tempat mereka berbaur bersama dengan kawan2 street punk mataram yang juga masing2 dari anak2 punk ini mempunyai profesi yang berbeda di keseharian mereka. ada yahg bekerja sebagai karyawan swasta, mahasiswa, tukang sablon, tukang parkir, pelajar dll. berdasarkan pengalaman penulis ke lokasi dimana mereka sering nongkrong, ternyata mereka adalah sosok2 yang sangat humoris bersahabat dan cerdas, beda banget dengan kesan dari luar yang terlihat sangar dan menyeramkan, perasaan mereka lebih lembut dari salju sekalipun.
dan ketika mereka berkeluarga nanti mereka akan tetap menjadi PUNK, tampa harus berpenampilan punk. karena setelah itu punk bagi mereka ada di hati dan perbuatan yang nyata. punk = DIY = kebebasan yang bertanggung jawab = persaudaraan = cita rasa sosial yang tinggi dan = penghargaan terhadap personal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar